Langsung ke konten utama

Jangan Patahkan apa yang Kamu yakini


Judul diatas lebih untuk menegur diri aku sendiri. Awal tahun 2014 merupakan tahun terberat dalam kehidupan aku, namun menjadi tahun pembelajaran aku untuk kedepan, yang tentunya ingin menjadi lebih baik. Aku berada di jalur yang tidak memungkinkan untuk berhenti, apalagi mundur. 
Penyebabnya tiada lain karena aku dan suami membuat keputusan yang fenomenal dan banyak mengejutkan berbagai Pihak, termasuk Ibu ku.
Keputusan dimana suami mengambil langkah untuk berhenti bekerja dan saya menghentikan aktifitas rutin yang telah dijalani selama 11 tahhun, yaitu sebagai terapis di Usaha Ibuku sendiri. 
Kami mengambil langkah untuk masa depan yang lebih baik, tiada lain karena himpitan dan desakan Finansial yang semakin bertambah, terutama untuk anak-anak yang kebutuhannya semakin luar biasa. Bahkan kami mengambil langkah ini saat sedang dalam masalah besar dengan HUTANG, dimana kami sudah tidak dimampukan untuk membayar cicilan. Hutang-hutang itu terjadi akibat kami terlalu ingin memenuhi hasrat atas segala kebutuhan dan juga ketidakmampuan saya dalam mengelola keuangan.


Maka dari itu aku mengakui bahwa semua ini adalah akibat kesalahan-kesalahan kami, dalam menentukan keputusan Finansial dan GAGAL dalam mengatur keuangan cash flow kehidupan pun tidak pernah dibuat. Sehingga aku dan suami terjebak dalam HUTANG, sampai puncaknya yaitu kami sudah tidak MAMPU mencicil lagi atau membayar sepeserpun.


Perjalanan yang luarbiasa, aku dan suami sudah benar-benar pailit, namun kami terus berusaha melangkah, menjalani usaha baru kami sedikit demi sedikit. Usaha kami begerak dibidang Travel Umrah dan Haji Plus, pekerjaan kami hanya menginfokan dan bersyi'ar. Saat ini hanya bisa menabur dan menebar, hasilpun tidak terlalu diharapkan, padahal betul-betul sangat memerlukan hasil, dimana saat ini aku memerlukan keajaiban lagi dari Sang Maha Kuasa. Namun aku besyukur atas kenikmatan dan rezeki yang sudah kami terima sepanjang hidup kami, juga untuk rezeki yang tercukupi, seperti kebutuhan uang saku anak-anakku dan makan sehari-hari kami, walau keadaannya kami saat ini masih menumpang di rumah Ibuku. Tapi keadaan ini sudah diatur oleh Allah agar kami dimudahkan langkah serta pikirannya, sehinngga urusan-urusan kami tidak terlalu membebani ikhtiar. Allah sedang menguji kesabaran kami dan Rasa Hormat ku kepada Orang Tua, terutama Ibu ku.


Masalah Sebelumnya, yaitu saat DEBT collector mencari saya, semua orang yang berhubungan dengan saya terganggu akibat ulah DEBT collector. Hubunganku dengan Ibu semakin tidak membaik, dan pada saat itu suamiku harus berangkat Umrah bersama ibunya, mau tidak mau harus berangkat, karena demi janji suamiku kepada ibunya. Uang yang kami miliki saat itu tidak mencukupi untuk apapun, termasuk melunasi Biaya Umrah, namun Allah membantu dengan cara  Nya & Allah sudah memilih suamiku beserta Ibunya untuk menyambut panggilan Allah ke Baitullah. Uang Pelunasan Alhamdulillah bisa didapat dari simpanan adik iparku. Singkat cerita suami berangkat Umrah bersama Ibunya dengan Pinjaman dari adik Ipar yang perjanjiannya telah disepakati, dapat dibayar kapan saja sesuai kemampuan. Dalam niat kami kepada adik,  ingin melunasi segera, kemudian diwaktu yang sama saat suami sedang menunaikan Ibadah Umrah, saya menghadapi para penagih hutang dan pertolongan Allah turun dengan wasilah, yaitu menjadikan ibu saya sebagai pemberi bantuan, dengan memberikan pinjaman dari mengangagunkan sertifikat rumah. Semua itu terjadi berkat doa suami selama di Tanah Suci.


Allah tidak menyelesaikan hutang-hutang kami, hanya meringankan dan memperpanjang cicilannya. Alhamdulillah, bagaimanapun aku sangat bersyukur untuk kemudahan ini.


Namun akibat-akibat tersebut, ternyata permasalahannya menjadi berkembang, permasalahan barupun bermunculan. Belum 1 minggu suamiku pulang Umrah, adik ipar menagih. Dia pun merasa tidak enak, namun kondisinya terpaksa, akibat desakan akan permasalahan bisnisnya yang baru dibuka, yang ternyata budget permodalan untuk usaha barunya membengkak. Suami adik ipar pun sedang kesulitan untuk usahanya, yang  memerlukan dana segera. Kepentingannya itu serentak, Ujian ini benar-benar berat. Rasanya ingin menyerah, terutama ketika ibu menagih pembayaran jatuh tempo atas hutang-hutang saya. Saya hanya mampu berucap iya saja, sambil tidak tahu darimana saya bisa mendapatkan uang itu dengan waktu yang tepat, sesuai jatuh temponya.


Bulan ini luar biasa, benar-benar hebat. Kedua anakku menghadapi Ujian Akhir.
Mutia anak sulungku, diterima sebagai Mahasiswa Telkom University. Sudah bukan rahasia umum lagi bahwa sekolah ke jenjang yang lebih tinggi itu MAHAL. Mukti anakku pun akan berlanjut ke SMP.
Awal bulan April aku harus ada dana 15 juta, untuk membayar cicilan hutang dan SPP anak2. Akhir bulan April sebelum tanggal 28, harus ada dana 35 juta untuk pembayaran Biaya kuliah. Subhanallah... 
Dan Alhamdulillah aku saat ini punya uang sebesar 1,1 jt saja, untuk biaya sehari-hari kami.


Sungguh Allah Maha Baik, pertolongan Nya pasti akan turun dengan cara Nya, hanya pemikiran itu yang bisa menghibur saya, dimana saya mampu tersenyum. Padahal sebenarnya, saya rapuh. Saya terus berupaya menciptakan rasa semangat dalam alam pikiran saya. Berupaya untuk tidak pesimis, berusaha untuk tidak mematahkan keyakinan ku akan Turunnya Pertolongan Allah dan Kebaikan Allah yang pasti akan ditumpahkan kepada kami. Tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk menghadapi situasi ini, selain hanya merapat kepada Allah dan meminta pertolongan kepada Nya. Berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa Allah pasti menolongku. Namun yang menjadi beratnya kelemahanku untuk mengalahkan emosi dan logika ku yang sering mengganggu keyakinan.


Istigfar, tasbih dan dzikir. Membaca Al-Qur'an dan Solat. Menjadi Sabar dan Ikhlas. Hanya itu yang dapat aku lakukan. Ikhtiar pun sudah kami lakukan. Ini seperti Ujian keyakinan kepada diri saya sendiri, tentang ucapan-ucapan saya kepada para Jama'ah, suatu Pembuktian kepada keyakinan diriku tentang 80% Ibadah, 20% Ihtiar.


Allah sedang mempersiapkan kami, agar kami mampu dan memiliki wadah yang besar dimana ketika waktunya tiba, Dia akan berikan limpahan Kesehatan, Rahmat, Rezeki dan Kebaikan tanpa ada yang mampu menghalangi. Keyakinan ini jangan sampai dipatahkan oleh diriku sendiri Yaa Allah...
Sungguh aku meminta pertolongan dari Mu. Meminta kemudahan untuk seluruh Urusan Duniawi ku kepada Mu Yaa Rabb....


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bersyukur menyelesaikan masalah

Semakin berkembangnya bisnis atau usaha, maka butuh konsep. Tidak disangka konsep yg didapat bisa terwujud dikala bersolawat dan bertasbih. Bukan perkara mudah, berkarya dalam posisi kesusahan, tapi disinilah kekuatan dibuat utk membentuk diri lebih baik. Bersyukur terus menerus dilatih, utk mendapatkan ketenangan, tanpa disadari masalah terselesaikan. Butuh keyakinan dan kerja keras diatas rata2 utk mewujudkan impian. Melibatkan Allah jalan pintas terbaik.

Kata - kata adalah cermin

Buku ini bener-bener memberi banyak Ilmu buat saya. Menyedihkan memang, apalagi kalau mengakui bahwa finacial ku sangat tidak tertata. Namun tak ada kata terlambat kan? Selama ini tidak ada yang memberikan pemahaman tentang bagaimana menjadi seseorang yang berada di ranah Pengusaha, kebanyakan mencekoki untuk menjadi sosok pegawai di suatu Perusahaan Bonafit. Setelah itu untuk penghasilanpun tidak ada pemahaman untuk menabung jadi modal usaha masa depan, tapi menabunglah untuk beli rumah atau bahkan terbawa arus pemborosan. Yang akhirnya terjebak sebagai Debitor alias Penghutang, parahnya lagi sudah tidak mampu membayar yang membawa saya menjadi tunawisma. Ya betul, saya jadi tunawisma...tidak punya tabungan, tidak punya aset, tidak punya rumah, tidak punya simpanan apapun. Menyedihkan sekali, Ironis...anak sudah mau kuliah dan SMP aku tidak tau darimana untuk mendapatkan biayanya. Luar biasa kan? Beberapa waktu lalu ya saya menangis, ya saya tertekan, ya saya sangat rapuh, ...

Memahami Ilmu Ikhlas

Tidak mudah merasakan kebahagiaan apabila diri tdk dilepaskan utk menjadi bahagia. Kata BAHAGIA identik dengan rasa senang karena kemenangan, keberhasilan, mendapatkan hal yg menyenangkan, menerima kabar Gembira dan banyak hal lain yang sifatnya sukacita. Jarang rasa BAHAGIA dimunculkan kala menghadapi kegagalan, kekalahan apalagi saat2 terpahit seperti kesedihan. Memberikan kesempatan bagi diri sendiri untuk merasa bahagia pun pasti harus menunggu saat yg tepat. Padahal menjadikan diri utk selalu BAHAGIA itu hanya dengan bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan oleh Allah swt. Untuk pandai mensyukuri nikmat diawali dengan memaknai hidup dan kehidupan. Mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, mempelajari dan memahami tentang Ikhlas, Sabar. Tidaklah mudah untuk istiqomah sebagai Mahluk yang penyabar apalagi melekatkan sifat Ikhlas dalam keseharian. Karena pada dasarnya, sulit untuk menerima kekecewaan. Hal ini sangat memerlukan dukungan dari lingkungan keluarga atau orang2 terc...